Ada kesalahan di dalam gadget ini

Sabtu, 30 Maret 2013

Pemberian Diit Pada Batita


what's up guys ? hahaha sekarang saya mau share soal Pemberian Diit dan Makanan Sehari-hari paada Batita, cekidot !!!

Tujuan pemberian diit pada batita
            Pada usia batita, tujuan diit adalah mencegah penambahan berat badan. Karena anak pada usia ini cepat bertambah tinggi, maka dengan mengusahakan berat badannya tetap melalui pembatasan diit secara moderat, dalam waktu 6 sampai dengan 12 bulan ia akan keluar dari kegemukannya. Diit yang mengandung 600-800 kkal pada umumnya dianggap cukup untuk mengatasi kegemukan pada anak usia ini.
Pada tiap golongan usia mempunyai kebutuhan gizi yang berbeda, sesuai dengan kecepatan tumbuh dan aktivitas yang dilakukan, termasuk golongan batita. Salah satu cara menilai pertumbuhan dan kesehatan anak adalah dengan secara teratur melakukan pengukuran antropometri(Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB)) yang dikaitkan dengan umur. Jadwal pemberian makanan sama, yaitu 3 kali makanan utama (pagi, siang, dan malam) dan 2 kali makanan selingan (di antara dua kali makanan utama)
Pola hidangan sehari yang dianjurkan adalah makanan seimbang yang terdiri atas:
a)      Sumber zat tenaga : masalnya nasi, roti, mie, bihun, jagung, ubi, singkong, tepung-tepungan, gula dan minyak
b)     Sumber zat pembangun : maisalnya ikan, telur, ayam, daging, susu, kacang-kacangan, tahu, tempe dan oncom.
c)      Sumber zat pengaturan : misalnya sayuran dan buah-buahan, terutama sayuran dan buah-buahan berwarna hijau dan kuning.
     Pertumbuhan batita tidak sepesat pada masa bayi, tetapi aktivitasnya lebih banyak. Golongan ini sangat rentan terhadap penyakit gizi (Kurang Kalori Protein, Anemia Kurang Besi, dan Kurang Vitamin A) dan penyakit infeksi. Syarat makanan yang harus diberikan adalah makanan yang mudah dicerna dan tidak merangsang (tidak pedas).
Pada usia 1-3 tahun anak bersifat konsumen pasif. Makanannya tergantung pada apa yang di sediakan ibu. Gigi-geligi susu telah tumbuh, tetapi belum dapat digunakan untuk mengunyah makanan yang terlalu keras. Namun anak hendaknya sudah diarahkan untuk mengikuti pola makanan orang dewasa.

Pemilihan makanan
Pemberian gizi dapat terpenuhi dengan sempurna maka perlu diperhatikan syarat bahan makanan yang akan digunakan sesuai dengan umur. Makanan tambahan yang baik menurut WHO (2005) adalah sebagai berikut :
1.      Kaya energi, protein dan mikronutrien (seperti zat besi, kalsium, zink, vitamin A, C, dan folat).
  1. Bersih dan aman :
·         Tidak ada pathogen.
·         Tidak ada bahan kimia berbahaya.
·         Tidak ada potongan tulang atau bagian yang keras membuat anak tersedak.
·         Tidak terlalu panas.
·         Tidak terlalu pedas atau asin.
·         Mudah dimakan oleh anak.
·         Tersedia didaerah dan harganya terjangkau serta mudah disiapkan.
Sebelum menentukan jumlah dan jenis bahan makanan sehari yang harus diberikan, terlebih dahulu menghitung kebutuhan zat gizi Balita terutama energi dan protein. Kebutuhan energi Batita adalah 75-90 kalori per kg berat badan dan 10%-20% dari total energi harus berupa protein. Contoh: seorang anak laki-laki usia dua tahun denganberat badan 11 kg, kebutuhan proteinnya sebagai berikut: kebutuhan energi sehari: 11 x 80 kal = 880 kal, kebutuhan protein sehari: (10%-20%) x 880 kal = (88-176) kal, setiap 1 g protein menghasilakan 4 kal sehingga protein yang dibutuhkan = (88-176) : 4 = (22-44) g. Sesudah angka tersebut didapatkan barulah dijabarkan ke dalam bahan makanan sehari-hari. Untuk menjabarkan kebutuhan zat gizi ke dalam bahan. Cukup sulit untuk mencapai jumlah yang tepat sehingga selisih 10% dari kebutuhan total masih dapat diterima. Namun protein sebagai zat pembangun tidak dapat diganti dengan yang lain.
Sediakan makanan buatan sendiri dengan bahan-bahan lokal, perhatikan keamanan dan kebersihan dalam menyiapkan, menyimpan, dan memeberikan makanan. Riset menunjukkan bahwa bayi yang diberi makanan bergizi dengan komposisi yang sehat, tumbuh menjadi anak yang kuat dan mudah beradaptasi soal makanan dibandingkan dengan anak yang diberikan makanan dengan komposisi yang kurang baik. Membuat makanan bayi di rumah adalah hal yang mudah, murah dan bergizi untuk memastikan bahwa anak-anak anda mendapatkan keuntungan tersebut.  Banyak orang yang tidak menyadari bahwa membuat sendiri makanan bayi di rumah mempunyai banyak keuntungan, yaitu:
·      Anda memiliki kendali penuh atas apa yang akan dimakan oleh anak anda.
·      Anda menanamkan kebiasaan makan yang sehat sejak dini.
·      Makanan buatan sendiri lebih bergizi dan bebas zat-zat aditif.
·      Makanan buatan sendiri lebih variatif.
·      Mudah dan hemat, serta jauh lebih lezat dari makanan instan.
Makanan pertama sebaiknya adalah golongan beras dan sereal karena berdaya alergi rendah. Beras dan sereal disangrai dan dihaluskan menjadi tepung, tim dengan air secukupnya sampai matang, kemudian campurkan dengan ASI atau air matang untuk membentuk tekstur semi cair. Secara berangsur-angsur perkenalkan sayuran yang dikukus dan dihaluskan dan kemudian buah yang dihaluskan, kecuali pisang dan alpukat matang, jangan berikan buah/sayuran mentah. Setelah bayi dapat mentolerir beras/sereal, sayur dan buah dengan baik, berikan sumber protein (tahu, tempe, dg ayam, ati ayam & dg sapi) yang dikukus dan dihaluskan.Setelah bayi mampu mengkoordinasikan lidahnya degan lebih baik, secara bertahap bubur dibuat lebih kental (kurangi campuran air), kemudian menjadi lebih kasar (disaring kemudian cincang halus), lalu menjadi kasar (cincang kasar) dan akhirnya bayi siap menerima makanan padat yang dikonsumsi keluarga. Sejumlah jenis makanan harus ditunda pemberiannya karena merupakan pencetus alergi, sedangkan sejumlah jenis lainnya harus ditunda pemberiannya karena mempunyai kandungan dan bentuk yang berbahaya bagi anak di usia tertentu.
Jangan pernah memberi garam (maupun bumbu penyedap lainnya: merica, kaldu bubuk, gula, dll) pada makanan bayi kita. Pemberian garam (yang mengandum sodium) terlalu dini kepada bayi bisa menyebabkan ginjal mereka rusak. Selain itu, pada saat mereka dewasa, mereka lebih mudah terkena hypertensi (tekanan darah tinggi).
INGAT: Bayi tidak mengenal definisi hambar karena mereka baru belajar mengenai rasa. Kalau kita membiasakan pemberian makanan non-hambar sejak dini, bayi pun akan gampang menolak makanan yang cenderung hambar saat dia dewasa.
Mungkin anda sudah sering mendengar, “Jangan tambahkan gula atau garam pada makanan bayi”.  Bagaimana dengan menambahkan bumbu-bumbu yang lain untuk membangkitkan selera makan bayi anda?  Dalam topik ini kita akan membahas mengenai penambahan bumbu dapur pada makan bayi buatan anda.
Saat anda membuat makanan sendiri untuk bayi anda, anda melakukannya untuk berbagai alasan yang bersifat pribadi.  Salah satu dari alasan yang biasa dikemukakan oleh para orang tua yang membuat makanan sendiri untuk bayi mereka adalah karena mereka dapat mengendalikan apa yang dimakan oleh bayi mereka.  “Kendali” ini dimaksudkan agar bayi anda memakan makanan yang sehat dan bergizi tanpa ada tambahan penyedap atau pengawet yang biasanya terdapat di dalam makanan instan.  Zat tambahan ini biasanya dimasukkan ke dalam makanan pada berbagai variasi “Makanan Tahap 2”, “Makanan penutup”, “Makanan Tahap 3” dan “Makanan untuk batita”.  Bila anda membaca label yang ada pada makanan-makanan seperti ini, anda mungkin akan bertanya-tanya, “Bila di dalam makanan instan ini terdapat gula dan kayu manis, mengapa saya tidak boleh menambahkan sedikit bumbu tersebut ke dalam makanan buatan saya?”  Kami memang tidak menganjurkan penambahan gula atau garam di dalam makanan buatan anda, tapi kami menganjurkan untuk menambahkan bahan-bahan lain untuk menambah rasa pada makanan bayi buatan anda.
Sering kali bila kita memikirkan bumbu penyedap untuk makanan yang kita buat, yang terpikirkan adalah gula dan garam.  Para orang tua jarang sekali berpikir untuk menambahkan bumbu dan rempah seperti :
§  Kunci
§  Lengkuas
§  Salam
§  Daun Jeruk
§  Kunyit
§  Ketumbar
§  Vanila
§  Lada
§  Bawang putih
§  Bawang merah
§  Bawang bombay
§  Jahe
§  Kayu manis
§  Pala
§  Adas
§  Bumbu asing: Rosemary, oregano, Mint
§  Dll
Bumbu rempah seperti tersebut di atas ini bisa ditambahkan pada makanan bayi anda! Perkenalkanlah bumbu rempah pada bayi anda sehingga pengenalan makanan keluarga seperti yang biasa anda masak tidak perlu harus ditunda sampai bayi anda berusia batita.
Sebagian besar dokter spesialis anak akan merekomendasikan penundaan sampai bayi berusia 8 bulan atau lebih sebelum diperkenalkan pada bumbu rempah.  Rekomendasi ini lebih bertujuan untuk menghindari terjadinya gangguan pada pencernaan dibandingkan untuk menghindari reaksi alergi. Seperti bila anda memperkenalkan makanan baru yang lain, para orang tua diharapkan dapat menerapkan aturan “tunggu selama 4 hari” saat memperkenalkan bumbu rempah.

Jenis dan jadwal pemberian makanan pada batita
Contoh Menu Sehari, Untuk anak usia 1 – 3 tahun
Waktu Jenis makanan
Pagi hari Satu gelas susu
Pukul 08:00 Sup Makaroni
Pukul 10:00 Biskuit, Sari buah
Siang hari Nasi, Bistik Daging Cincang dan Tempe, Sup Sayur
Pukul 16:00 Buah
Malam hari Nasi, Siomay Tahu Ayam, Sup Sayuran, Buah, Satu Gelas Susu

Yang Diberikan

Kelompok Makanan
Jumlah porsi per hari
Ukuran 1 porsi
Contoh Makanan
Serealia (Padi-padian)
6 atau lebih
Bahan mentah: ¼ - ⅓ cangkir
Bahan matang: ¼ - ⅓ cangkir
Roti: ¼ - ½ iris
Cracker: 2 atau 3 keping
Pasta: ¼ - ⅓ cangkir
Beras (putih/merah), mie, bihun, kwetiau, makaroni, pasta lainnya, kraker, havermut, roti, dll.
Sayur dan buah
5 atau lebih
Bahan matang: ¼ cangkir
Cincangan, mentang: ¼ cangkir
Buah/sayuran potong ¼ - ½ potong
Sari buah asli: 60 – 80 ml
Pepaya, anggur dibelah 4, strawberi, kiwi, mangga, melon.
Tomat, brokoli, bayam, kembang kol, dll.
Susu dan produk susu olahan
3
Susu atau yogurt: 110 ml
Keju: 14 gr
Susu: UHT, susu di pasturisasi, bubuk full cream, bubuk instant.
Yogurt, low-fat yogurt, reduced fat yogurt.
Keju: cheddar, edam, cottage, ricotta, etc.
Sumber protein
2
Daging, ikan, kerang-kerangan: 1 - 3 sdm
Telur: 1 butir
Polong-polongan, kacang-kacangan: 1 - 3 sdm
Ayam, sapi, domba/kambing, ikan (tuna, salmon, cod, marlin), cumi, teri, telur, tahu, tempe
Lemak
Sesedikit mungkin
Mentega, margarine, minyak: 1 sdt
Mentega, margarine, minyak sayur

Saran Pengenalan Makanan Sesuai Usia Anak

Usia
Sereal/
Gandum
Sayuran
Buah
Daging & Protein
Susu & Produk Susu
Kacang-kacangan/biji-bijian, dll
Penyajian
12-24  bulan
Semua
- Jagung
- Tomat
- Seledri
- Daun slada
- Bawang Bombay
- Sayuran yang dimakan tanpa dimasak
- Buah sitrus: jeruk, lemon, jeruk bali, jeruk limo, dll
- Buah berri: strawberry, raspberry, dll
- Kurma
- Cherry
- Anggur (dipotong empat)
- Buah yang dimakan tanpa dimasak
- Daging
- Ikan
- Putih Telur
- Telur utuh
- Susu sapi segar
- Susu UHT
- Yogurt plain
- Susu bubuk biasa (non formula)
- Ice cream
- Cottage cheese
-  Madu
-  Selai kacang
-  Rempah-rempah lainnya.
Makan makanan keluarga yg di potong-potong atau tumbuk kasar
Mulai menggunakan alat makan sendiri
2 – 3 thn
Semua
Semua
Semua
Kerang-kerangan
- Susu dan produk susu rendah lemak.
Kacang tanah
Coklat
Biji-bijian
Garam
Gula
Menggunakan alat makan sendiri dengan bantuan

Makanan yang dihindari pada masa batita
Alergi coklat yang sebenarnya jarang ditemukan, dalam hal ini orang alergi pada bijih coklat. Kebanyakan reaksi alergi terhadap coklat disebabkan intoleransi atau alergi pada satu atau lebih bahan atau zat penambah pada coklat. Ini termasuk kedelai, lesitin, susu, sirup jagung, gluten, kacang, zat pemberi rasa dan warna, yang juga merupakan pencetus alergi. Jika bukan bahan tersebut, kotoran tikus atau serangga lainnya kadangkala ditemukan dalam coklat. Hindari pemberian coklat hingga anak Anda berusia 24 bulan.
Anak Anda masih membutuhkan kandungan lemak dan kalori yang tinggi dari susu untuk pertumbuhan dan perkembangan. Begitu ia berusia 24 bulan (dan tak memiliki masalah perkembangan), Anda dapat mulai memberikan anak Anda susu dan hasil produksinya yang berlemak rendah.
Sebaiknya tundalah pengenalan makanan yang menjadi pencetus alergi bagi Anda dan suami/istri Anda. Jika Anda menyusui, hindarilah memakan semua jenis kacang-kacangan dan mungkin telur serta susu agar dapat membantu menunda atau mencegah alergi pada bayi Anda.
Daftar makanan berikut ini berbahaya karena bayi Anda belum memiliki gigi dan belum menguasai sepenuhnya pergerakan mulut/lidah; memberikan makanan jenis ini terlalu awal dapat berisiko tercekik. Dianjurkan untuk memberikan makanan di bawah ini hingga anak Anda berusia 2 atau 3 tahun.
§  Hot dog: Saat Anda memberikan daging pada bayi Anda, ingatlah bahwa ia dapat dengan mudah  tersedak akibat potongan hotdog kecuali jika Anda memotongnya seukuran kecil. (Jika Anda memberikan hot dog, cobalah yang untuk vegetarian sebagai alternatif makanan yang lebih sehat.)
§  Potongan besar buah, sayur (matang atau mentah), atau daging: Yang teraman adalah yang seukuran biji kapri.
§  Buah-buahan dan sayuran keras dan mentah seperti wortel: Kebanyakan buah-buahan dan sayuran sebaiknya dipotong-potong atau dimasak dalam ukuran kecil hingga bayi Anda berusia 12 bulan. Dengan demikian makanan tersebut tidak tersangkut di tenggorokan anak Anda. Hal yang sama juga perlu dilakukan untuk celery dan buncis. Saat bayi Anda berusia 12 bulan, ia dapat mulai memakan buah dan sayuran yang dipotong/dijus.
§  Keju bongkahan: Potonglah keju hingga berbentuk sangat kecil atau serpihan
§  Anggur utuh: Potonglah anggur, tomat ceri, dan melon dalam potongan kecil sebelum diberikan. Buah yang utuh dapat tersangkut di tenggorokan anak Anda.
§  Makanan yang kecil dan keras: Permen keras seperti gulali, kacang-kacangan (selain yang ditumbuk halus), brondong jagung, permen loli, kismis dan buah-buahan kering lainnya, biji-bijian, dan permen karet berpotensi menimbulkan bahaya tersedak.
§  Beberapa jenis makanan empuk dapat tersangkut dalam tenggorokan anak Anda, seperti marshmallow, permen lunak, selai kacang, permen karet
§  Makanan yang sulit dikunyah dan ditelan: keripik kentang atau jagung, potongan daging (misalnya sate), potongan daging bacon
§  Hindari membiarkan anak Anda makan di mobil karena sulit untuk mengawasi sambil mengendarai mobil
§  Janganlah makan sambil berjalan atau berlari
Kebanyakan anak dapat mengatasi alergi saat usia 1 tahun dan sudah tidak alergi lagi saat usia 3 tahun. Namun alergi pada makanan yang juga menimbulkan alergi pada orangtuanya dapat menetap selama bertahun-tahun. Oleh karena itu para ahli menganjurkan menunda memberikan putih telur hingga usia 2 tahun, kacang-kacangan, kerang-kerangan, ikan, dan kacang tanah (termasuk selai kacang) hingga bayi Anda berusia setidaknya 3 tahun.

Masalah mengenai asupan gizi pada batita

MENURUNNYA NAFSU MAKAN

Para orang tua seringkali khawatir mengenai menurunnya napsu makan dan pertumbuhan fisik anak mereka yang menginjak usia batita (12-36 bulan. Berbeda dengan masa bayi 0-12 bulan yang pertumbuhan fisiknya sangat cepat, dengan kenaikan berat badan di tahun pertama yang mencapai 3 kali dari berat saat lahir.
Biasanya pertumbuhan fisik anak melambat di usia 12 bulan, untungnya, melambatnya pertumbuhan fisik ini membuat kebutuhan kalori mereka tidak setinggi sebelumnya. Dengan demikian mereka membutuhkan makanan lebih sedikit dibandingkan saat bayi, makanya napsu makan mereka menurun. Jadi tidak usah cemas, yang terpenting adalah biasakan memberi berbagai pilihan makanan yang sehat. Harap ingat: jika anak Anda sehat dan aktif, dan Anda memberikannya makanan yang bernutrisi, maka tidak ada masalah pada anak Anda. Anak Anda tidak akan membiarkan dirinya kelaparan

GANGGUAN SFINGTER
Pada saluran yang menuju lambung ada semacam klep atau katup yang dinamakan sfingter. Fungsinya untuk mencegah keluarnya kembali makanan yang sudah masuk ke lambung. Tentunya, kalau sfingter tak bagus, maka makanan yang masuk ke lambung bias keluar lagi. Gejalanya biasanya kalau pada bayi akan lebih sering gumoh,
terutama sehabis disusui. Apalagi bila ia ditidurkan dengan posisi
telentang. Ingat, cairan selalu mencari tempat yang paling rendah, bukan? Begitupun bila setiap kali diberi makanan padat muntah, harus dicurigai sfingter-nya tak bagus.
Kadang ada juga sfingter dengan gangguan, yang disebut hipertropi pylorus stenosis, yaitu adanya otot pylorus yang menebal hingga makanan akan susah turun dari lambung ke usus, akhirnya keluar muntah. Gejalanya, tiap kali diberikan makanan padat akan muntah. Tapi kalau makanan cair tidak. Selain itu, berat badannya pun sulit naik. Jika gangguannya berat, makanan cair pun biasanya tak bisa lewat, hingga menganggu pertumbuhan si bayi karena tak ada penyerapan makanan. Biasanya kalau kejadiannya demikian, harus dilakukan tindakan operasi secepatnya untuk memperbaiki klepnya hingga saluran makanan dari lambung ke usus bisa jalan dengan lancar. Namun kalau gangguannya ringan saja, misal, muntahnya jarang dan setelah dilakukan pemeriksaan dengan rontgen atau USG ditemui hipertropi sfingter ringan, berat badan anak tetap naik. Biasanya kalau kasusnya demikian,  tindakan operasi bisa ditunda.

TRAUMA
Bila anak kerap muntah saat diberi makan, kemungkinan ada beberapa faktor, yang menyebabkannya. Yang sering terjadi adalah feeding problem atau problem pemberian makan. Khusus menyoroti feeding problem ini, biasanya terjadi dalam keluarga yang kedua orang tuanya bekerja sehingga anak diasuh oleh baby sister-nya. Saat ke dokter dan diketahui bobot anak berkurang akhirnya si baby sister di beri tugas memperbaiki bobot anak.Biasanya yang terjadi kemudian, adalah menempuh cara paksa, peristiwa
tersebut malah membuat anak trauma
Selain trauma, penyebab kedua anak susah makan adalah penyakit. Untuk yang satu ini memang harus ditangani oleh dokter. Kemudian yang ketiga adalah faktor psikologi, yaitu si kecil merasa makan itu bukan urusannya. Kondisi ini terjadi ketika seluruh anggota keluarga menyuruh si kecil untuk makan, bapak, ibu, kakek, nenek, om, tante semua menyuruh makan, hingga si kecil berpikir makan bukanlah urusannya. Hal ini juga bisa membuat anak muntah-muntah, karena punya riwayat waktu kecil sering dipaksa.
Seharusnya orang tua membiasakan mengajak anak duduk bersama sewaktu bapak dan ibunya makan. Mungkin selama acara makan berlangsung, mejanya makan akan berantakan dengan ulahnya. Kebanyakan yang terjadi adalah, orang tua memarahi anak. Ini bisa membuat anak trauma.
Asalkan anak tidak mencoba meraih sambal, lebih baik orang tua membiarkan saja anak mengambil makanan yang mau dicobanya. Dengan mengajaknya makan bersama justru mengajarnya mandiri. Cara makan bersama keluarga atau makan bersama teman sebaya akan lebih efektif merangsang anak untuk makan dibanding dengan cara paksa / menjejelin yang malah membuatnya trauma, karena anak akan berpikir makan bukanlah urusannya.
GUMOH DAN MUNTAH
Gumoh dan muntah pada anak biasanya disebabkan karena refleks menelan yang belum bagus, tak kenal dengan makanannya, serta merasa makanannya berbeda.

Tips memberikan makanan pada anak
Sesuai dengan karakteristik Batita, pola makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan frekuensi sering yaitu 7-8 kali sehari. Pola tersebut terdiri atas tiga kali makan utama seperti orang dewasa (makan pagi, siang dan sore) serta 2-3 kali makan sehingga ditambah 2-3 kali susu. Pada awal Batita susu diberikan tiga kali sehari. Secara perlahan turunkan hingga dua kali sehari, sedapat mungkin saat makan utama anak duduk dalam satu meja bersama keluarga. Pilihlah cara pengolahan yang menghasilkan tekstur lunak dengan kandungan air tinggi seperti pada Batita yaitu dengan direbus atau dikukus, namun cara pengolahan dengan digoreng yang menghasilakn tekstur keras dan kandungan lemak tinggi sudah dapat digunakan walaupun masih terbatas. Beberapa pilihan cara kombinasi yaitu rebus dahulu kemudian panggang (perkedel panggang dan ayam panggang bumbu opor) dan rebus kemudian goring (tempe dan tahu bacem serta perkedel).
§  Berikan makanan 5-6 kali sehari. Pada masa ini lambuk anak belum mampu mengakomodasi porsi makan 3 kali sehari. Mereka perlu makan lebih sering, sekitar 5-6 kali sehari (3 kali makan “berat” ditambah cemilan sehat).
§  Berikan porsi kecil. Batita dikenal sebagai anak yang mempunyai nafsu makan yang naik-turun. Kadang doyan makan, kadang hanya makan sedikit, namun tetap bisa tumbuh dengan sehat. Tanggung jawab Anda sebagai orang tua adalah memberikan makanan bernutrisi sesuai jadwal pemberian makan dan cemilannya, dalam suasana yang menyenangkan. Selebihnya, terserah batita Anda untuk memutuskan apa dan berapa banyak yang dimakannya. Berikanlah makanan dalam porsi kecil – batita Anda akan memberikan sinyal jika ia ingin nambah.
§  Jangan berikan susu dan jus sampai berlebihan. Minuman bisa mempengaruhi napsu makan batita. Agar batita tumbuh dengan baik, ia membutuhkan 2-3 cangkir susu (atau 2-3 porsi susu dan produk susu olahan) per hari. Apabila batita Anda minum lebih dari 2-3 cangkir sehari, maka batita Anda akan terlalu kenyang untuk mengonsumsi makanan yang mengandung nutrisi penting, seperti zat besi dan vitamin. Untuk menghindarinya, berikan susu setelah batita makan. Demikian halnya dengan jus, batasi pemberian jus menjadi maksimal 120 ml per hari, terlalu banyak jus akan membuat anak Anda kehilangan napsu makan dan atau diare. Biarkan anak mengeksplorasi makanan dan memutuskan makanan yang mereka inginkan.
§  Tumbuhkan keterampilan makan. Saat batita mulai mengetahui cara makan sendiri, mereka biasanya menjadi terlalu bersemangat ingin makan tanpa bantuan. Walaupun mereka mungkin mengalami kesulitan untuk mengambil makanan yang licin atau menyendoki makanan tertentu, mereka akan cenderung menolak untuk dibantu. Anda bisa memastikan bahwa batita Anda mendapatkan makanan yang cukup dengan menyediakan makanan yang lunak dan mudah dikunyah, yang dipotong kecil seukuran satu suap anak, serta memasak makanan yang lengket di sendok, seperti havermut atau kentang yang dihaluskan, untuk melatih kemampuan batita menggunakan sendok.  Sebagian besar batita dapat beralih dari botol ke cangkir di usia 14 bulan, walaupun masih membutuhkan bantuan. Biarkan batita berlatih dengan sedikit air dalam sippy cup/training cup nya, lama-kelamaan batita Anda akan mahir menggunakan cangkir tanpa bantuan. Jadi jangan biasakan anak untuk selalu disuapi oleh orang tua atau pengasuhnya, biarkan anak Anda mengeksplorasi keterampilan makan tanpa bantuan.
§  Kurangi makanan/minuman lemak secara bertahap. Walaupun batita membutuhkan kalori lebih sedikit dari masa bayinya, jangan batasi kadar lemak dalam makananya sampai ia berusia 2 tahun. Setelah anak menginjak usia 2 tahun, baru Anda bisa secara bertahap menguragi kadar lemak di makanannya, dan meningkatkan asupan sereal, sayuran dan buah-buahan. Mulailah dengan memilih susu atau produk susu olahan yang rendah lemak (low-fat) serta menghindari/mengurangi cemilan yang kayak lemak (spt kentang goreng, coklat, dll).
§  Berikan makanan kaya zat besi. Kekurangan zat besi atau anemia seringkali ditemukan pada anak batita. Anemia berdampak negative pada kesehatan anak juga pada kemampuannya untuk belajar. Untuk pencegahan, berikan batita Anda makanan kaya zat besi seperti daging, unggas, ikan, dan sereal yang diperkaya zat besi.
§  Jadikan waktu makan sebagai saat yang menyenangkan. Membuat waktu makan sebagai saat yang menyenangkan memang susah, terlebih lagi jika orang tua khawatir anaknya tidak cukup makan. Akibatnya, sebagian orang tua akan memaksa anak untuk makan, dan anak akan belajar bahwa ia bisa memegang kendali dengan menolak makanan.  Situasi ini dapat dicegah dengan melakukan  beberapa hal:
§  Jangan paksa batita untuk makan. Satu hal yang jangan Anda lakukan adalah memaksa batita Anda untuk makan. Memaksa atau mencekoki makanan pada batita yang tidak lapar seringkali malah berakibat anak semakin menolak makanan. Batita mempunyai naluri alami untuk menginginkan kendali tentang apa dan berapa banyak makanan yang masuk dalam mulutnya. Banyak batita yang melakukan aksi tutup mulut hanya untuk menunjukkan bahwa mereka yang mempunyai kendali.
§  Pastikan batita didudukkan dengan nyaman saat makan (gunakan kursi tinggi) dan makan di ruang makan.
§  Kurangi kegiatan serta sumber suara atau visual yang bisa mengganggu perhatiannya (seperti makan sambil bermain, menonton TV, dan lainnya).
§  Bantu batita Anda untuk menikmati saat makannya. Senyumlah atau berbicaralah saat batita Anda makan, makan bersama, dan Anda menunjukkan ekspresi bahwa Anda sangat menikmati makanan tersebut. Biarkan batita Anda mencoba sedikit makanan Anda. Satu hal lagi, jangan memaksa dan “menipu” batita Anda agar anak Anda makan. Misalnya: “nanti mama pergi loh kalo ade ga makan”, “eh makan satu suap ini aja”, atau “ini suapan yang terakhir kok” (padahal masih banyak). Orang tua dapat menjelaskan makan yang dimakan batita atau berbicara hal-hal lain selama waktu makan, hindari kalimat-kalimat negatif, seperti, “Kamu nakal banget sih nggak mau makan”, “Mama nggak suka kalau kamu nggak makan sayuran”. Sebisa mungkin, orang tua menyempatkan diri untuk makan bersama dengan batita supaya mereka bisa mencontohkan cara makan dan mengenalkan anak dengan makanan baru.
§  Jadikan waktu makan sebagai kesempatan untuk belajar
§  Belajar kebiasaan makan yang baik
Orang tua dapat membuat waktu makan sebagai proses pembelajaran bagi batita dan sebagai waktu yang menyenangkan bagi semua anggota keluarga, dengan menetapkan sejumlah aturan:
·         Tetapkan jam makan yang sama setiap harinya, baik makan pagi, makan siang dan makan malam.
·         Makan di ruang makan, bukan di ruang duduk keluarga atau di depan TV atau sambil berjalan-jalan di taman.
·         Dudukkan batita duduk di kursi makannya atau dipangkuan (bukan digendongan atau sambil berjalan/bermain/berlarian/di baby walker).
·         Matikan TV atau pastikan bahwa setiap anggota keluarga menghabiskan cukup waktu di meja makan hanya untuk makan, bukan sambil menonton TV, membaca koran/majalah, ber-SMS atau berbicara lewat handphone/telpon, atau makan terburu-buru.
·         Ciptakan suasana yang tenang, bersahabat, bukan untuk berargumen, memarahi anak dan hal-hal lain yang bisa membuat kesan bahwa waktu makan adalah hal yang menegangkan. Suasana yang tegang di meja makan membuat anak menganggap waktu makan sebagai beban, bukan saat menyenangkan dengan keluarga.
·         Belajar ketrampilan makanan
Makan bersama keluarga memberikan kesempatan bagi batita untuk belajar makan dengan mengobservasi anggota keluarga lain. Mereka belajar cara menggunakan peralatan makan dan bagaimana cara memakan makanan tertentu (seperti sate, jagung, dan lain sebagainya). Mereka melihat ada makanan yang dicocolkan dengan sambal/saus, ada yang diolesi, ada yang dimakan dengan tangan, dan lainnya. Melihat orang tua dan saudara-saudaranya minum dengan gelas membuatnya tertarik untuk mencoba.Batita juga pandai belajar sejumlah keterampilan sosial yang penting.  Mereka mulai mengerti konsep bahwa makanan dimakan sambil duduk (bukan berlarian atau digendongan), meminta makanan atau susu tambahan sambil berkata “tolong” dan “terima kasih”. Secara umum, mereka belajar menggunakan suara yang lembut dan menyenangkan saat makan, mengamati bagaimana anggota keluarga mendengarkan dengan sopan dan tidak memotong pembicaraan orang lain. Mereka juga belajar bahwa melempar-lempar makanan tidak baik, dan tidak ada anggota keluarga lain yang memuntahkan makanannya ke atas meja/piring.
·         Belajar mengenai makanan
Acara makan bersama juga dapat mengajarkan batita mengenai makanan. Mereka mungkin akan hanya makan jenis makanan tertentu untuk sementara waktu, namun mereka akan mengamati makanan menarik lain (yang ada di meja) dan mungkin ingin bereksperiman dengan mencoba-coba makanan yang dikonsumsi orang tua dan saudara-saudaranya. Membantu persiapan makanan juga bisa membuat batita lebih semangat untuk mencoba berbagai jenis makanan, jadi, jika memungkinkan, berikan tugas-tugas yang mudah seperti menaburkan seledri, menuangkan air, meletakkan hiasan makanan, dan lain sebagainya.
Di usia muda, anak lebih suka memakan makanan yang dimakan orang tuanya. Saat usia mereka bertambah, mereka ingin makan apa yang dimakan teman-temannya (dan yang ada di iklan TV). Oleh karena itu, orang tua bisa memberikan model atau contoh bagi anak dengan memilih makanan yang sehat.
Butuh pemahaman dan kasih sayang untuk mulai memperkenalkan makanan pada bayi. Pemberian makan pada bayi dan batita merupakan masa transisi dari pemberian ASI menjadi pemberian makanan keluarga, yang harus dilakukan dengan penuh cinta dan tentunya kesabaran dan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
§  Pahami kondisi anak, Anak yang sedang mengantuk, sedih, atau sakit cenderung malas makan. Kenali tanda-tandanya dan bina komunikasi dengan anak.
§  Pahami tanda-tanda kapan Anak mulai lapar dan kenyang. Tahu kapan harus berhenti. Bayi akan berhenti makan saat mereka kenyang. Tanda-tandanya antara lain, menutup mulut, memuntahkan makanan, memalingkan kepala dari arah sendok, mendorong badannya ke belakang, mengurangi makanan/minuman yang diasup, tertidur, dan memain-mainkan makanan.
§  Pahami perkembangan kemampuan makan pada bayi dan batita Anda. Jenis, porsi, tekstur, frekuensi dan cara pemberian makanan berubah sesuai usia dan perkembangan anak. Apa yang tepat untuk bayi usia 6 bulan berbeda dengan anak usia 12 atau 18 bulan.
§  Berikan bantuan dan dukungan tanpa memaksa anak untuk makan. Bersabar. Memaksa anak untuk memakan jenis makanan tertentu atau untuk menghabiskan makanan bukan cara yang tepat untuk membentuk pola makan yang sehat.
§  Berikan makan secara perlahan dan dengan penuh kesabaran. Jagan paksa jika anak tidak mau makan, berikan lagi di lain waktu, tidak ada penolakan anak yang absolut.
§  Berikan variasi jenis, rasa, tekstur, warna, kombinasi dan penyajian makanan.
§  Berikan senyuman, kontak mata langsung dan kalimat-kalimat yang membesarkan hati anak, sehingga saat makan merupakan saat belajar dan penuh cinta.
§  Bantu batita untuk menyuapi sendiri makanannya, jangan biasakan menyuapi anak-anak. Sedikit berantakan tidak apa-apa, makan adalah bagian proses belajar dan petualangan. Anak akan lebih cepat belajar untuk makan sendiri jika suasana makan menyenangkan.
§  Kurangi gangguan selama makan, biasakan bayi dan batita duduk di ruang makan, baik di kursi makannya atau di pangkuan  Jangan biasakan memberi makan sambil menonton TV, bermain, jalan-jalan atau digendong.
§  Berikan makanan secara teratur tepat pada saat-saat makan.
Bayi dan batita senang menirukan apa yang mereka lihat, berbagai studi menunjukkan bahwa bayi yang diajak bergabung saat makan bersama keluarga akan lebih semangat untuk makan dan mencoba berbagai jenis makanan.